www.mutmainah.forumotions.com

Forum Diskusi & Informasi Pengajian VCM
 
IndeksIndeks  PortalPortal  FAQFAQ  PencarianPencarian  PendaftaranPendaftaran  AnggotaAnggota  GroupGroup  Login  Keluarga VCMKeluarga VCM  

Share | 
 

 Mengapa Aku Memilih Islam

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Admin
Admin


Jumlah posting : 63
Join date : 20.01.08

PostSubyek: Mengapa Aku Memilih Islam   Sun Jan 20, 2008 11:20 am

Mengapa Aku Memilih Islam

SAYA dibesarkan dalam tradisi keluarga Kristen Katolik. Ayah saya Yohanes dan ibu bernama Lalan. Ayah menginginkan saya menjadi penganut Kristen yang taat, baik di rumah maupun di masyarakat dan sekolah. Ayah selalu mengedepankan nilai-nilai agama Kristen dalam kehidupan kami. Ayah juga menerapkan kedisiplinan dalam keluarga. Untuk masalah ini ayah sangat ketat. Setiap pulang sekolah, saya dan adik harus tetap berada dalam rumah. Boleh bergaul, asal jangan main-main, apalagi jika bermain dengan teman-teman non-Kristen.

Hal ini sangat diterapkan ayah, mengingat saya tinggal dan bersekolah di lingkungan yang mayoritas muslim. Ayah tidak menginginkan saya terlalu dekat dengan mereka. Ayah takut saya terpengaruh oleh ajaran agama mereka. Pokoknya, bagi ayah sekali Kristen tetap Kristen

Sikap ayah ini membuat saya heran. Dulu menurut saudara, ayah yang muslim, ayah adalah seorang penganut agama Islam. Karena cinta pada seorang wanita, yang kini menjadi ibu saya, ayah rela melepaskan akidah Islam untuk masuk ke agama Kristen Katolik.

Kini, saya tahu alasan ayah mengapa saya dididik dan diajarkan secara intens mengenai ajaran-ajaran Kristus. Ayah menginginkan saya dan adik menjadi penganut yang taat. Keinginan ini, menurut saya, dilandasi cintanya pada ibu.Terus terang, saya tidak suka dengan sikap ayah yang seperti itu.

Beragama, jika berdasarkan cinta, bukan karena iman adalah sikap beragama yang semu. Cinta, menurut saya adalah relatif. Iman bagi saya merupakan landasan atau fondasi. Sikap ayah ini menjadi bahan renungan saya. Saya tidak habis mengerti. Rasanya saya mulai kurang sreg dalam beragama seperti itu. Saya mulai berpikir untuk segera meninggalkan agama yang diajarkan ayah itu.

MENDENGAR AZAN
Keiginan untuk segera pindah keyakinan semakin menggebu. Mulanya saya tertarik dengan kumandang suara azan. Kalimat-kalimat yang dilantunkan melalui pengeras suara dari masjid dekat rumah, sangat menggetarkan hati saya. Bulu kuduk jadi merinding dan ada getaran aneh yang seakan akan memanggil saya untuk masuk ke agama Islam. Saya heran, mengapa ini bisa terjadi?

Padahal, suara itu dulu saya sering dengar dan tidak terjadi apa-apa. Saya tak tahu mengapa sekarang hati saya bergetar. Saya bingung. Kejadian inilah yang membuat saya merenung kembali.

Kejadian ini segera saya ceritakan kepada saudara saya yang muslim. Menurut saudara saya, suara azan yang dikumandangkan oleh muadzin merupakan tanda panggilan shalat bagi kaum muslimin. Setiap hari ada lima waktu yang harus dijalankan oleh setiap muslim. Itu yang dinamakan shalat wajib. Selain shalat wajib, menurutnya, ada shalat sunnah.

Mengenai bergetarnya hati ini, saudara saya mengatakan bahwa itu tandanya saya sudah meresapi makna di balik kalimat kalimat azan itu. Artinya, saya sudah mendapatkan titik terang untuk segera menerima Islam. Mendengar itu, hati saya sangat gembira. Tanpa sadar air mata mulai menggenang di pelupuk mata. Saya terdiam. Kemudian dalam hati saya berkata, "Terima kasih Tuhan. Engkau telah memberiku petunjuk "

Kejadian dan penjelasan saudara saya itu, saga simpan dalam hati. Saya sengaja tidak menceritakan kepada saudara maupun keluarga. Saya takut jika mereka tahu, apalagi ayah. Pastilah beliau akan memarahi saya habis-habisan. Bukan itu saja, mungkin saya akan diusir atau makin dikekang bergaul.

MASUK ISLAM
Lama saya pendam niatan untuk pindah agama. Makin lama saya simpan, makin menguat keinginan itu. Akhirnya, saya ceritakan juga pada teman-teman sekolah saya yang muslim. Pada awalnya mereka heran, saat saya duduk dalam kelas mengikuti pelajaran agama. Namun, mereka akhimya maklum akan keingintahuan saya akan agama Islam. Mereka juga tidak mengusir saya, tapi mendekati saya. Saya bahagia dapat mengikuti pelajaran itu. Terus terang, saya senang jika duduk dengan mereka sama-sama mengikuti pelajaran agama Islam.

Kemudian saya utarakan keinginan untuk pindah agama. Mereka kaget bercampur gembira. Oleh mereka, saya disarankan untuk segera menghadap guru agama. Saya terima saran itu. Melalui pengurus rohani Islam yang ada di sekolah, saya dipertemukan dengan guru agama. Pada beliau saya ceritakan keinginan saya itu. Pak guru agama sangat menyambut keinginan itu. Kepada guru agama di sekolah itulah, saya berkonsultasi keagamaan. Dari beliaulah, saya banyak mendapat penjelasan perihal agama Islam.

Setelah sekian lama berkonsultasi, akhimya pada tahun 1997, saya mantapkan diri untuk menjadi seorang muslimah. Proses pengislaman saya berlangsung di sekolah. Tepatnya, dimushalla sekolah. Di hadapan guru agama, teman-teman OSIS, dan pengurus rohis (sie rohani Islam), saya berikrar mengucapkan dua kalimat syahadat.

Keislamam saya ini kembali saya tutup rapat rapat buat keluarga saya. Saya tidak ingin mereka tahu. Saya sengaja merahasiakan. Ada beberapa kalangan yang tahu, di antaranya teman-teman sekolah, guru agama, saudara saya yang muslim, dan pacar saya sendiri.

Karena masih rahasia, saya sendiri jadi kesulitan untuk beribadah. Untuk shalat saja, misalnya, saya harus sembunyi-sembunyi atau shalat di masjid yang jauh dari rumah. Atau pergi ke rumah saudara yang muslim untuk menumpang shalat. Tapi dengan cara begini, saya merasa bersyukur dapat beribadah. Saya bertekad untuk mempertahankan apa yang sudah saya pegang.

Saya bertekad untuk mempertahankan Islam apa pun yang terjadi. Islam memberi saya ketenangan dan ketenteraman batin. 'Untuk memantapkan keimanan, saya banyak membaca buku-buku agama Islam, walaupun hares sembunyi-sembunyi. Selain itu, saya juga mengikuti pengajian di sekolah dan berkonsultasi dengan guru agama. Bagi saya, mereka semua adalah saudara saya yang mengantarkan iman saya kepada agama Islam. Saya bersyukur dapat bersaudara dengan mereka.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://mutmainah.forumotions.net
irwan



Jumlah posting : 1
Join date : 22.01.08

PostSubyek: Mendapat Hidayah di Biara   Tue Jan 22, 2008 4:15 pm

HJ. IRENA HANDONO MENDAPAT HIDAYAH DI BIARA


Allah selalu memberi petunjuk kepada siapa saja yang mencari kebenaran, dimana pun hamba-Nya berada, di biara sekali pun. Itulah yang terjadi pada Irena Handono yang mendapat hidayah justru saat mencari kelemahan Islam.
Ketika membaca surat Al Ikhlas hatinya tunduk akan keesaan Allah swt. Ia mengakui bahwa tak ada yang paling berkuasa dan patut disembah di jagad raya ini selain Sang Khalik.

Berikut penuturannya kepada Siwi WulAndari dari Majalah Hidayah:

Aku dibesarkan dalam keluarga yang rilegius. Ayah dan ibuku merupakan pemeluk Katholik yang taat. Sejak bayi aku sudah dibabtis, dan sekolah seperti anak-anak lain. Aku juga mengikuti kursus agama secara privat.

Ketika remaja aku aktif di organisasi gereja. Sejak masa kanak-kanak, aku sudah termotivasi untuk masuk biara. Bagi orang Katholik, hidup membiara adalah hidup yang paling mulia, karena pengabdian total seluruh hidupnya hanya kepada Tuhan. Semakin aku besar, keinginan itu sedemikian kuatnya, sehingga menjadi biarawati adalah tujuan satu-satunya dalam hidupku.

Kehidupanku nyaris sempurna, aku terlahir dari keluarga yang kaya raya, kalau diukur dari materi. Rumahku luasnya 1000 meter persegi. Bayangkan, betapa besarnya. Kami berasal dari etnis Tionghoa. Ayaku adalah seorang pengusaha terkenal di Surabaya, beliau merupakan salah satu donator terbesar gereja di Indonesia. Aku anak kelima dan perempuan satu-satunya dari lima bersaudara.

Aku amat bersyukur karena dianugrahi banyak kelebihan. Selain materi, kecerdasanku cukup lumayan. Prestasi akademikku selalu memuaskan. Aku pernah terpilih sebagai ketua termuda pada salah satu organisasi gereja. Ketika remaja aku layaknya remaja pada umumnya, punya banyak teman, aku dicintai oleh mereka, bahkan aku menjadi faforit bagi kawan-kawanku.

Intinya, masa mudaku kuhabiskan dengan penuh kesan, bermakna, dan indah. Namun demikian aku tidak larut dalam semaraknya pergaulan muda-mudi, walalupun semua fasilitas untuk hura-hura bahkan foya-foya ada. Keinginan untuk menjadi biarawati tetap kuat. Ketika aku lulus SMU, aku memutuskan untuk mengikuti panggilan Tuhan itu.

Tentu saja orang tuaku terkejut. Berat bagi mereka untuk membiarkan anak gadisnya hidup terpisah dengan mereka. Sebagai pemeluk Katholik yang taat, mereka akhirnya mengikhlaskannya. Sebaliknya dengan kakak-kakaku, mereka justru bangga punya adik yang masuk biarawati.

Tidak ada kesulitan ketika aku melangkah ke biara, justru kemudahan yang kurasakan. Dari banyak biarawati, hanya ada dua orang biara yang diberi tugas ganda. Yaitu kuliah di biara dan kuliah di Instituit Filsafat Teologia, seperti seminari yang merupakan pendidikan akhir pastur. Salah satu dari biarawati yang diberi keistimewaan itu adalah saya.

Dalam usia 19 tahun Aku harus menekuni dua pendidikan sekaligus, yakni pendidikan di biara, dan di seminari, dimana aku mengambil Fakultas Comparative Religion, Jurusan Islamologi. Di tempat inilah untuk pertama kali aku mengenal Islam. Di awal kuliah, dosen memberi pengantar bahwa agama yang terbaik adalah agama kami sedangkan agama lain itu tidak baik. Beliau mengatakan, Islam itu jelek. Di Indonesia yang melarat itu siapa?, Yang bodoh siapa? Yang kumuh siapa? Yang tinggal di bantaran sungai siapa? Yang kehilangan sandal setiap hari jumat siapa? Yang berselisih paham tidak bisa bersatu itu siapa? Yang jadi teroris siapa? Semua menunjuk pada Islam. Jadi Islam itu jelek.

Aku mengatakan kesimpulan itu perlu diuji, kita lihat negara-negara lain, Philiphina, Meksiko, Itali, Irlandia, negara-negara yang mayoritas kristiani itu tak kalah amburadulnya. Aku juga mencontohkan negara-negara penjajah seperti terbentuknya negara Amerika dan Australia, sampai terbentuknya negara Yahudi Israel itu, mereka dari dulu tidak punya wilayah, lalu
merampok negara Palestina. Jadi tidak terbukti kalau Islam itu symbol keburukan. Aku jadi
tertarik mempelajari masalah ini. Solusinya, aku minta ijin kepada pastur untuk mempelajari Islam dari sumbernya sendiri, yaitu al-Qur'an dan Hadits. Usulan itu diterima, tapi dengan catatan, aku harus mencari kelemahan Islam.

Kebenaran surat Al Ikhlas
Ketika pertama kali memegang kitab suci al-Qur'an, aku bingung. Kitab ini, mana yang depan, mana yang belakang, mana atas mana bawah. Kemudian aku amati bentuk hurufnya, aku semakin bingung. Bentuknya panjang-panjang, bulat-bulat, akhirnya aku ambil jalan pintas, aku harus mempelajari dari terjemah.

Ketika aku pelajari dari terjemahan, karena aku tak mengerti bahwa membaca al-Quran dimulai dari kiri, aku justru terbalik dengan membukanya dari kanan. Yang pertama kali aku pandang, adalah surat Al Ihlas.Aku membacanya, bagus surat al-Ikhlas ini, pujiku. Suara hatiku membenarkan bahwa Allah itu Ahad, Allah itu satu, Allah tidak beranak, tidak diperanakkan dan tidak sesuatu pun yang menyamai Dia. "Ini 'kok bagus,dan bisa diterima!" pujiku lagi.

Pagi harinya, saat kuliah teologia, dosen saya mengatakan, bahwa Tuhan itu satu tapi pribadinya tiga, yaitu Tuhan Bapak, Tuhan Putra dan Tuhan Roh Kudus. Tiga Tuhan dalam satu, satu Tuhan dalam tiga, ini yang dinamakan trinitas, atau tritunggal. Malamnya, ada yang mendorong diriku untuk mengaji lagi surat al-Ihklas. "Allahhu ahad, ini yang benar," putusku pada akhirnya.

Maka hari berikutnya terjadi dialog antara saya dan dosen-dosen saya. Aku katakan, “Pastur (Pastur), saya belum paham hakekat Tuhan."
"Yang mana yang Anda belum paham?" tanya Pastur.
Dia maju ke papan tulis sambil menggambar segitiga sama sisi,AB=BC=CA.
Aku dijelaskan, segitiganya satu, sisinya tiga, berarti tuhan itu satu tapi pribadinya tiga. Tuhan Bapak sama kuasanya dengan Tuhan Putra sama dengan kuasanya Tuhan Roh Kudus. Demikian Pastur menjelaskan. "Kalau demikian, suatu saat nanti kalau dunia ini sudah moderen, iptek semakin canggih, Tuhan kalau hanya punya tiga pribadi, tidak akan mampu untuk mengelola dunia ini. Harus ada penambahnya menjadi empat pribadi," tanyaku lebih mendalam.
Dosen menjawab, "Tidak bisa!"
Aku jawab bisa saja, kemudian aku maju ke papan tulis. Saya gambar bujur sangkar. Kalau dosen saya mengatakan Tuhan itu tiga dengan gambar segitiga sama sisi, sekarang saya gambar bujur sangkar. Dengan demikian, bisa saja saya simpulkan kalau tuhan itu pribadinya empat.
Pastur bilang, tidak boleh.
Mengapa tidak boleh? Tanya saya semakin tak mengerti.
"Ini dogma, yaitu aturan yang dibuat oleh para pemimpin gereja!" tegas Pastur.
Aku katakan, kalau aku belum paham dengan dogma itu bagaimana?
"Ya terima saja, telan saja. Kalau Anda ragu-ragu, hukumnya dosa!" tegas Pastur mengakhiri.
Walau pun dijawab demikian, malam hari ada kekuatan yang mendorong saya untuk kembali mempelajari surat al-Ikhlas. Ini terus berkelanjutan, sampai akhirnya aku bertanya kepada Pastur, "Siapa yang membuat mimbar, membuat kursi, meja?" Dia tidak mau jawab.
"Coba Anda jawab!" Pastur balik bertanya. Dia mulai curiga. Aku jawab, itu semua yang buat tukang kayu.
"Lalu kenapa?" tanya Pastur lagi.
"Menurut saya, semua barang itu walaupun dibuat setahun lalu, sampai seratus tahun kemudian tetap kayu, tetap meja, tetap kursi. Tidak ada satupun yang membuat mereka berubah jadi tukang kayu," saya mencoba menjelaskan.
"Apa maksud Anda?" Tanya Pastur penasaran. Aku kemudian memaparkan, bahwa Tuhan menciptakan alam semesta dan seluas isinya termasuk manusia. Dan manusia yang diciptakan seratus tahun lalu sampai seratus tahun kemudian, sampai kiamat tetap saja manusia, manusia tidak mampu mengubah dirinya menjadi Tuhan, dan Tuhan tidak boleh dipersamakan dengan manusia.
Malamnya, kembali kukaji surat al-Ikhlas. Hari berikutnya, aku bertanya kepada Pastur, "Siapa yang melantik RW?" Saya ditertawakan. Mereka pikir, ini 'kok ada suster yang tidak tahu siapa yang melantik RW?.
"Sebetulnya saya tahu," ucapku.
"Kalau Anda tahu, mengapa Anda Tanya? Coba jelaskan!" tantang mereka.
"Menurut saya, yang melantik RW itu pasti eselon di atasnya, lurah atau kepala desa. Kalau sampai ada RW dilantik RT jelas pelantikan itu tidak syah."
"Apa maksud Anda?" Mereka semakin tak mengerti.
Saya mencoba menguraikan, "Menurut pendapat saya, Tuhan itu menciptakan alam semesta dan seluruh isinya termasuk manusia. Manusia itu hakekatnya sebagai hamba Tuhan. Maka kalau ada manusia melantik sesama manusia untuk menjadi Tuhan, jelas pelantikan itu tidak syah."

Keluar dari Biara
Malam berikutnya, saya kembali mengkaji surat al-Ikhlas. Kembali terjadi dialog-dialog, sampai akhirnya saya bertanya mengenai sejarah gereja.
Menurut semua literratur yang saya pelajari, dan kuliah yang saya terima, Yesus untuk pertama kali disebut dengan sebutan Tuhan, dia dilantik menjadi Tuhan pada tahun 325 Masehi. Jadi, sebelum itu ia belum menjadi Tuhan, dan yang melantiknya sebagai Tuhan adalah Kaisar Constantien kaisar romawi.
Pelantikannya terjadi dalam sebuah conseni (konferensi atau muktamar) di kota Nizea. Untuk pertama kali Yesus berpredikat sebagai Tuhan. Maka silahkan umat kristen di seluruh dunia ini, silahkan mencari cukup satu ayat saja dalam injil, baik Matius, Markus, Lukas, Yohanes, mana ada satu kalimat Yesus yang mengatakan 'Aku Tuhanmu'? Tidak pernah ada.
Mereka kaget sekali dan mengaggap saya sebagai biarawati yang kritis.

Dan sampai pada pertemua berikutnya, dalam al-Quran yang saya pelajari, ternyata saya tidak mampu menemukan kelemahan al-Qur'an. Bahkan, saya yakin tidak ada manusia yang mampu.

Kebiasaan mengkaji al-Qur'an tetap saya teruskan, sampai saya berkesimpulan bahwa agama yang hak itu cuma satu, Islam. Subhanaallah.

Saya mengambil keputusan besar, keluar dari biara. Itu melalui proses berbagai pertimbangan dan perenungan yang dalam, termasuk melalui surat dan ayat. Bahkan, saya sendiri mengenal sosok Maryam yang sesungguhnya dari al-Qur'an surat Maryam. Padahal, dalam doktrin Katholik, Maryam menjadi tempat yang sangat istimewa. Nyaris tidak ada doa tanpa melalui perantaranya. Anehnya, tidak ada Injil Maryam. Jadi saya keluar dengan keyakinan bahwa Islam agama Allah. Tapi masih panjang, tidak hari itu saya bersyahadat. Enam tahun kemudian aku baru mengucapkan dua kalimah syahadat. Selama enam tahun, saya bergelut untuk mencari. Saya diterpa dengan berbagai macam persoalan, baik yang sedih, senang, suka dan duka. Sedih, karena saya harus meninggalkan keluarga saya. Reaksi dari orang tua tentu bingung bercampur sedih.
Sekeluarnya dari biara, aku melanjutkan kuliah ke Universitas Atmajaya. Kemudian aku menikah dengan orang Katholik. Harapanku dengan menikah adalah, aku tidak lagi terusik oleh pencarian agama. Aku berpikir, kalau sudah menikah, ya selesai!
Ternyata diskusi itu tetap berjalan, apalagi suamiku adalah aktifis mahasiswa. Begitu pun dengan diriku, kami kerap kali berdiskusi. Setiap kali kami diskusi, selalu berakhir dengan pertengkaran, karena kalau aku mulai bicara tentang Islam, dia menyudutkan. Padahal, aku tidak suka sesuatu dihujat tanpa alasan. Ketika dia menyudutkan, aku akan membelanya, maka jurang pemisah itu semakin membesar, sampai pada klimaksnya.
Aku berkesimpulan kehidupan rumah tangga seperti ini, tidak bisa berlanjut, dan tidak mungkin bertahan lama. Aku mulai belajar melalui ustadz. Aku mulai mencari ustadz, karena sebelumnya aku hanya belajar Islam dari buku semua.
Alhamdulillah Allah mempertemuka saya dengan ustadz yang bagus, diantaranya adalah Kyai Haji Misbah (alm.). Beliau ketua MUI Jawa Timur periode yang lalu.
Aku beberapa kali berkonsultasi dan mengemukakan niat untuk masuk Islam.
Tiga kali ia menjawab dengan jawaban yang sama, "Masuk Islam itu gampang, tapi apakah Anda sudah siap dengan konsekwensinya?"
"Siap!" jawabku.
"Apakah Anda tahu konsekwensinya?" tanya beliau.
"Pernikahan saya!" tegasku. Aku menyadari keinginanku masuk Islam semakin kuat.
"Kenapa dengan dengan perkawinan Anda, mana yang Anda pilih?" Tanya beliau lagi.
"Islam" jawabku tegas.
Akhirnya rahmat Allah datang kepadaku. Aku kemudian mengucapkan dua kalimat syahadat di depan beliau. Waktu itu tahun 1983, usiaku 26 tahun.
Setelah resmi memeluk Islam, aku mengurus perceraianku, karena suamiku tetap pada agamanya. Pernikahanku telah berlangsung selama lima tahun, dan telah dikaruniai tiga orang anak, satu perempuan dan dua laki-laki.
Alhamdulillah, saat ini mereka telah menjadi muslim dan muslimah.

Shalat pertama kali
Setelah aku mengucapkan syahadat, aku tahu persis posisiku sebagai seorang muslimah harus bagaimana. Satu hari sebelum ramadhan tahun dimana aku berikrar, aku langsung melaksanakan shalat.

Pada saat itulah, salah seorang kakak mencari saya. Rumah cukup besar. Banyak kamar terdapat didalamnya. Kakakku berteriak mencariku. Ia kemudian membuka kamarku. Ia terkejut, 'kok ada perempuan shalat? Ia pikir ada orang lain yang sedang shalat. Akhirnya ia menutup pintu.

Hari berikutnya, kakakku yang lain kembali mencariku. Ia menyaksikan bahwa yang sedang shalat itu aku. Selesai shalat, aku tidak mau lagi menyembunyikan agama baruku yang selama ini kututupi. Kakakku terkejut luar biasa. Ia tidak menyangka adiknya sendiri yang sedang shalat. Ia tidak bisa bicara, hanya wajahnya seketika merah dan pucat. Sejak saat itulah terjadi keretakan diantara kami.

Agama baruku yang kupilih tak dapat diterima. Akhirnya aku meninggalkan rumah. Aku mengontrak sebuah rumah sederhana di Kota Surabaya. Sebagai anak perempuan satu-satunya, tentu ibuku tak mau kehilangan. Beliau tetap datang menjenguk sesekali. Enam tahun kemudian ibu meninggal dunia. Setelah ibu saya meninggal, tidak ada kontak lagi dengan ayah atau anggota keluarga yang lain sampai sekarang.
Aku bukannya tak mau berdakwah kepada keluargaku, khususnya ibuku. Walaupun ibu tidak senang, ketegangan-ketegangan akhirnya terjadi terus. Islam, baginya identik dengan hal-hal negatif yang saya contohkan diatas. Pendapat ibu sudah terpola, apalagi usia ibu sudah lanjut.
Tahun 1992 aku menunaikan rukun Islam yang kelima. Alhamdulillah aku diberikan rejeki sehingga bisa menunaikan ibadah haji. Selama masuk Islam sampai pergi haji, aku selalu menggerutu kepada Allah, "kalau Engkau, ya Allah, menakdirkanku menjadi seorang yang mukminah, mengapa Engkau tidak menakdirkan saya menjadi anak orang Islam, punya bapak Islam, dan ibu orang Islam, sama seperti saudara-saudaraku muslim yang kebanyakan itu. Dengan begitu, saya tidak perlu banyak penderitan. Mengapa jalan hidup saya harus berliku-liku seperti ini?" ungkapku sedikit kesal.

Di Masjidil-Haram, aku bersungkur mohon ampun, dilanjutkan dengan sujud syukur. Alhamdulillah aku mendapat petunjuk dengan perjalan hidupku seperti ini. Aku merasakan nikmat iman dan nikmat Islam. Padahal, orang Islam yang sudah Islam tujuh turunan belum tentu mengerti nikmat iman dan Islam.

Islam adalah agama hidayah, agama hak. Islam agama yang sesuai dengan fitrah manusia. Manusia itu oleh Allah diberi akal, budi, diberi emosi, rasio. Agama Islam adalah agama untuk orang yang berakal, semakin dalam daya analisis kita, insya Allah, Allah akan memberi. Firman Allah, "Apakah sama orang yang tahu dan tidak tahu?"

Sepulang haji, hatiku semakin terbuka dengan Islam, atas kehendak-Nya pula aku kemudian diberi kemudahan dalam belajar agama tauhid ini. Alhamdulillah tidak banyak kesulitan bagiku untuk belajar membaca kitab-kitab. Allah memberi kekuatan kepadaku untuk bicara dan berdakwah. Aku begitu lancar dan banyak diundang untuk berceramah. Tak hanya di Surabaya, aku kerap kali diundang berdakwah di Jakarta. Begitu banyak yang Allah karuniakan kepadaku, termasuk jodoh, melalui pertemuan yang Islami, aku dilamar seorang ulama. Beliau adalah Masruchin Yusufi, duda lima anak yang isterinya telah meninggal dunia. Kini kami berdua sama-sama aktif berdakwah sampai ke pelosok desa. Terjun di bidang dakwah tantangannya luar biasa.

Alhamdulillah, dalam diri ini terus menekankan bahwa hidupku, matiku hanya karena Allah.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
anwarp



Jumlah posting : 14
Join date : 20.01.08

PostSubyek: Re: Mengapa Aku Memilih Islam   Tue Jan 22, 2008 4:44 pm

Kalau boleh dapat diusulkan kepada Ketua Paengajian Al Mutmainah pa' Wisman untuk dapat mengundang Ustdzah Hj.Handono ini, oleh karena dia walaupun sebagai Mualaf ( dari Agama Katholik ), adalah salah seorang yang sering membela Islam, dan sudah mengarang beberapa buku, al yang terkenala adalah, Buku " ISLAM DIHUJAT" yaitu menjawab Buku The Islamic Invasion, karya Robert Morey.
Kantornya dan rumahnya ada di daerah Mayestik.

Karena acaranya padat, untuk mengundangnya untuk memberikan Tauzih satu bulan sebelumnya.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Sponsored content




PostSubyek: Re: Mengapa Aku Memilih Islam   Today at 9:08 pm

Kembali Ke Atas Go down
 
Mengapa Aku Memilih Islam
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» Mengapa Mereka tetap Mengemis?
» Memilih Pembalut yang Baik
» 4 Alasan Mengapa Tidur Teratur Sangat Penting
» Alasan mengapa AMERIKA enggan berperang dgn Indonesia
» Front Pembela Islam

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
www.mutmainah.forumotions.com :: KAJIAN UTAMA :: Dunia Muslim-
Navigasi: